Senin, 12 November 2007

Gie, Keindahan Idealisme

Dalam sejarah Indonesia yang isinya penuh pekik dan suasana menggemuruh, akhirnya muncul film yang liris, bersuasana kontemplatif. Film ini perlu ditonton bukan hanya oleh kalangan remaja dan muda, tetapi juga kaum tua, supaya insaf.
Suara pidato Presiden Soekarno menyela di antara layar gelap, untuk selanjutnya, di zaman yang melulu tampak buram dan gelap itu hanya pidato dialah yang tampaknya punya semangat hidup. Semangat hidup? Bahkan ironi sudah muncul dari permulaan film. Pidato dan kebesaran Soekarno adalah pupur yang norak di tengah rakyat miskin antre minyak.

Sutradara Riri Riza-tak kalah dari Bernardo Bertolucci- berhasil mendesahkan suasana dan semangat zaman di tahun 1960-an, lewat filmnya yang cukup panjang, 147 menit, Gie. Inilah lagi-lagi kerja samanya dengan produser Mira Lesmana, yang memberikan harapan bukan terbatas pada perkembangan film Indonesia saja, tetapi juga sebuah generasi yang lebih sehat pikirannya.

Gie diangkat dari catatan harian Soe Hok Gie, mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pencinta alam. Jejak lain dari Soe Hok Gie yang penting adalah tulisan-tulisannya yang tajam di koran pada awal rezim Orde Baru, sebelum yang bersangkutan mati muda-pada usia 26 tahun-dalam pendakian Gunung Semeru, 16 Desember 1969.

Sunyi dan soliter

Dari catatan harian seorang anak muda yang nadanya lirih, sikapnya nihilis, janji dramatik apa yang bisa disajikan di film? Dengan cerdas Riri menghadirkan kesunyian anak muda itu di tengah kemelut zaman, dan dalam gejolak sejarah ini, kebersahajaan lakon hidup sehari-hari menjadi dramatik.

Soe Hok Gie, anak muda dari keluarga sederhana di Kebon Jeruk, Jakarta, terpengaruh oleh bacaan-bacaan "berat" dari Tolstoy, Camus, sampai Marx, dan Engels, menggugat ketidakadilan di sekelilingnya sejak masih usia sekolah menengah. Dari bacaannya, tampaknya dia menjadi sangat dekat dengan gagasan-gagasan eksistensialis dan kemudian sikap dasarnya sendiri, yang cenderung humanis.

Ketika di tahun 1960-an segregasi di kalangan rakyat Indonesia menajam, semua lapisan dari buruh tani sampai mahasiswa terkotak-kotak dalam aliran ideologi tertentu, Soe menempuh jalannya sendiri. Gugatan atau bahkan perlawanannya terhadap kepincangan politik kian runcing, tapi diungkapkan dalam gaya khas romantisme kalangan eksistensialis: sunyi dan soliter. "Kamu ini kanan atau kiri?" hardik temannya sesama mahasiswa gemas, terhadap posisi ideologis Soe.

Ketika seluruh mahasiswa bersuara kencang di bawah organisasinya masing-masing yang telah menjadi onderbouw partai-partai besar, Soe asyik sendiri dengan memutar film-film art di kampus. Selain itu kegiatan yang membuat Soe Hok Gie selalu dikenang dengan perasaan romantik oleh orang-orang yang pernah mengenalnya, yakni pendakian gunung, yang seindah puisi Elegi Mandalawangi.

Beberapa keraguan

Riri Reza berhasil menghadirkan seluruh risalah itu nyaris tanpa cacat. Detail dia olah dengan teliti, sampai simbolik pluralisme bahwa anjing dan kucing piaraan keluarga Soe pun tidak pernah berantem. Itu semua didukung penata artistik Iri Supit, yang melakukan pekerjaan luar biasa. Dia bukan hanya merekonstruksi fisik sebuah zaman, melainkan sampai ke bau dan semangatnya. Ini masih dipermanis oleh penataan musik oleh Thoersi Argeswara, yang mengantar suasana liris gejolak jiwa Gie, pejuang yang berjalan sendirian.

Ada beberapa keraguan, yang tampaknya harus dimaklumi. Misalnya, suasana penggambaran kebesaran Partai Komunis Indonesia alias PKI di masa itu. Pembuat film ini kelihatannya masih berhitung-hitung dengan sikap penguasa-yang sampai kini pun memang masih banyak yang ketakutan terhadap PKI (dalam compact disc berisi soundtrack film, tidak disertakan lagu Genjer-Genjer. Takut lagu itu menduduki anak tangga?).

Tantangan seni peran paling besar tentu dihadapi oleh Nicholas Saputra yang berperan sebagai Gie. Bagaimana dia harus menghidupkan gejolak jiwa dalam diri seseorang, yang pekerjaannya hanya membaca, menulis, memutar film, serta mendaki gunung? Dalam hal ini, dia beruntung didukung lawan main yang bermain prima, yakni Lukman Sardi (sebagai Herman Lantang), Wulan Guritno (Sinta), dan Sita Nursanti (Ira).

Film ini perlu ditonton bukan hanya oleh kalangan remaja dan muda, tetapi juga oleh para pejabat dan penguasa. Agar para bapak tahu bahwa politik bukan hanya proyek, melainkan juga idealisme. Bahwa keindahan hidup bukan hanya berasal dari uang, tapi juga dari puncak Gunung Gede, Pangrango, serta Semeru.

www.kompas.co.id

Antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru

Apa hubungan antara Soe Hok Gie dan Puncak Mahameru?
Dan apa yang berkaitan antara keduanya?
Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya?
Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut.


Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m.

Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut :

"Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung."

Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya :

"Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat."

Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :

Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.

Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, "Simpan dan berikan kepada kepada 'kawan-kawan' batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI." Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).

Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.

Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. "Gie dan Idhan kecelakaan!" katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali.

Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.

Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.

"Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya," begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.

Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.

Soe Hok Gie telah menjadi salah satu Dewa yang memuncaki Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa.

Sumber : Catatan Yulian, Intisari dan hasil dari Googling

Taken from : http://fendra.blogsome.com

Hutan Gunung Slamet terbakar

dah rada telat, tapi ga papa sebagai pemberitahuan dan juga peringatan untuk menjaga hutan kita. habis baca dari koran Sindo.

Hutan lindung di gunung terbesar se-Jawa, Gunung Slamet, Jawa Tengah (Jateng), Minggu (16/9/2007) pagi sekira pukul 06.00 WIB terbakar lagi. Lokasi kebakaran berada di sekitar Samaranthu atau di Pos IV pendakian dari jalur Bamblangan, Karangreja, Purbalingga, Jateng. Sedikitnya luas lahan yang terbakar sekira 9 hektare (ha).

Ahmad Sobari selaku Kepala Pos pendakian jalur Blambangan, Karangreja, Purbalingga mengatakan, api mulai membesar sekira pukul 06.00 WIB. Dia menyebutkan, sumber api berasal dari sisa kebakaran pada Kamis lalu yang belum padam.

“Kamis lalu terjadi kebakaran. Petugas sudah memadamkan api, ternyata apinya belum benar-benar padam. Sisa api ternyata terus menjalar dan menyebabkan kebakaran lagi. Api mulai membesar sekira pukul 06.00 WIB tadi pagi,” katanya, Minggu (16/9/2007).

Dikatakan Sobari, hingga saat ini api masih berkobar. Petugas, kata dia, kesulitan memadamkan api karena lokasi kebakaran berada di ketinggian sekira 2.000 meter di atas permukaan air laut (mdpl). “Akibat kebakaran tadi pagi itu membuat kebakaran pada pohon-pohon besar di wilayah hutan
lindung. Jadi tidak hanya semak belukar yang terbakar seperti pada Kamis lalu, tetapi sudah menjalar ke pohon-pohon besar hutan lindung,” katanya.

Sementara Ajun Administrasi Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur Sujudi mengatakan, kebakaran disebabkan karena sisa kebakaran yang belum padam. Jika sebelumnya hanya di wilayah KPH Pekalongan Barat, kini api menjalar ke KPH Banyumas Timur.

“Tidak hanya semak dan ranting yang terbakar tetapi pohon-pohon besar juga ikut terbakar. Area kebakaran juga lebih luas. Dalam perhitungan sementara setidaknya ada 9 hektare hutan lindung yang terbakar,” ungkapnya.

mapala.net